Jumat, 05 Juni 2009

INVESTASI


PENDAHULUAN
Keputusan menunda konsumsi sumber daya atau bagian penghasilan demi meningkatkan kemampuan menambah/menciptakan nilai hidup (penghasilan dan atau kekayaan) di masa mendatang merupakan investasi. Dalam bahasa yang lebih filosofis, segala sesuatu yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan menciptakan/menambah nilai kegunaan hidup adalah investasi. Jadi investasi bukan hanya dalam bentuk fisik, melainkan juga nonfisik, terutama peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Dari pengalaman negara-negara maju terbukti bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap kemajuan ekonomi adalah besarnya barang modal dan kualitas sumber daya manusia. Karena itu jika sebuah perekonomian ingin maju, perekonomian tersebut harus melakukan investasi.

INVESTASI DALAM KONTEKS EKONOMI MAKRO
Untuk memudahkan dan memperdalam pemahaman, dalam teori ekonomi ma¬kro yang dibahas adalah investasi fisik, misalnya dalam bentuk barang modal (pabrik dan peralatan), bangunan dan persediaan barang (inventory). Dengan pembatasan ter¬sebut, maka definisi investasi dapat lebih dipertajam sebagai pengeluaran-pengeluaran yang meningkatkan stok barang modal (capital stock). Yang dimaksud dengan stok barang modal (barang modal tersedia) adalah jumlah barang modal dalam suatu per¬ekonomian, pada satu saat tertentu. Untuk mempermudah penghitungan, umumnya stok barang modal dinilai dengan uang, yaitu jumlah barang modal dikalikan harga perolehan per unit barang modal. Dengan demikian barang modal merupakan konsep stok (stock concept), karena besarnya dihitung pada satu periode tertentu.
Agar tidak terjadi kerancuan dengan kenyataan sehari-hari, perhitungan investasi harus konsisten dengan perhitungan pendapatan nasional. Yang dimasukkan dalam perhitungan investasi adalah barang modal, bangunan/konstruksi, maupun per¬sediaan barang jadi yang masih baru. Jika seorang pengusaha membeli pabrik dan bangunan yang pernah dipakai orang lain, kegiatan tersebut tidak dapat dihitung sebagai investasi, sebab kegiatan tersebut tidak menambah stok barang modal yang baru.
Investasi merupakan konsep aliran (flow concept), karena besarnya dihitung selama satu interval periode tertentu. Tetapi investasi akan mempengaruhi jumlah barang modal yang tersedia (capital stock) pada satu periode tertentu. Tambahan stok barang modal adalah sebesar pengeluaran investasi satu periode sebelumnya.

a.Investasi ,Dalam Bentuk Barang Modal dan Bangunan

Yang tercakup dalam investasi barang modal (capital goods) dan bangunan (con¬struction) adalah pengeluaran-pengeluaran untuk pembelian pabrik-pabrik, mesin mesin, peralatan-peralatan produksi dan bangunan-bangunan atau gedung-gedunf yang baru. Karena daya tahan barang modal dan bangunan umumnya lebih dar setahun, seringkali investasi ini disebut sebagai investasi dalam bentuk harta tetap (fixed investment).

Di Indonesia, istilah yang setara dengan fixed investment adalah pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB). Besarnya angka PMTDB dapat dilihat path statistik PDB Indonesia berdasarkan pengeluaran. Data statistik selama sekitar 30 tahur terakhir ini menunjukkan pengeluaran investasi di Indonesia berkisar 30%-40% PDB yang berarti pengeluaran kedua terbesar setelah konsumsi rumah tangga.
Supaya lebih akurat, jumlah investasi yang perlu diperhatikan adalah investasi bersih, yaitu PMTDB dikurangi penyusutan (depresiasi). Penyusutan terhadap barang modal harus dilakukan agar efisiensi ekonomis dari kegiatan produksi tetap ter¬pelihara, bahkan ditingkatkan. Sebab, semakin tua usia mesin, produktivitasnya makin rendah. Akibatnya, walaupun secara teknis masih dapat digunakan, tetapi tidak akan menambah bahkan mengurangi keuntungan ekonomis. Misalnya, pabrik gula yang mesinnya telah berusia lima puluh tahun, secara teknis dapat dipakai untuk memproduksi gula. Tetapi produktivitasnya yang rendah, sementara biaya pe¬rawatannya sangat tinggi, menyebabkan secara ekonomis sudah tidak layak lagi. Lebih balk mesin itu diganti dengan mesin yang baru, yang menggunakan teknologi yang lebih baru pula.

b.Investasi Persediaan

Berdasarkan berbagai pertimbangan, perusahaan seringkali harus memproduksi lebih banyak daripada target penjualan. Misalnya, sebuah pabrik mobil menargetkan penjualan tahun 2000 adalah 50.000 unit. Tidaklah berarti produksinya harus 50.000 unit juga. Umumnya produksinya melebihi tingkat penjualan. Sebut saja 60.000 unit. Selisih 10.000 unit merupakan persediaan, untuk mengantisipasi berbagai kemung¬kinan. Tentu saja investasi persediaan diharapkan meningkatkan penghasilan/ keuntungan. Persediaan sebesar 10.000 unit tersebut dikatakan sebagai investasi yang direncanakan (planned investment) atau investasi yang diinginkan (intended investment). Sebab, memang sudah direncanakan sejak awal.
Jika karena suatu hal (misalnya terjadi resesi ekonomi) jumlah mobil yang terjual hanya 40.000 unit, maka persediaan mobil menjadi 20.000 unit, lebih besar daripada yang direncanakan. Jumlah mobil yang tidak terjual sesuai rencana (10.000 unit) bukanlah investasi yang direncanakan (unintended investment).
Selain barang jadi, investasi dalam bentuk persediaan bisa juga dilakukan dalam bentuk persediaan bahan baku dan barang setengah jadi/sedang dalam proses penye¬lesaian. Tujuan kebijaksanaan persediaan ini juga tetap dalam konteks meningkatkan pendapatan atau keuntungan di masa mendatang..

NILAI WAKTU DARI UANG

Investasi yang dilakukan saat ini tidak serta-merta menghasilkan peningkatan pendapatan hari ini juga. Dibutuhkan tenggang waktu. Makin tinggi jumlah dan kualitas investasi, biasanya tenggang waktunya makin panjang. Sebuah restoran yang ingin memperbesar usahanya dengan membeli gedung baru, meja makan dan per¬alatan-peralatan yang baru, membutuhkan tempo kurang dari satu tahun untuk menghasilkan. Tetapi investasi dalam bentuk pendirian pabrik mobil, mungkin mem¬butuhkan tenggang waktu sekitar lima tahun. Karena itu, pertimbangan pokok dari keputusan investasi adalah berapa nilai sekarang (present value) dari uang yang akan kita peroleh di masa mendatang, atau berapa nilai uang masa mendatang (future value) dari jumlah yang kita investasikan saat saat ini.

a. Nilai Sekarang (Present Value).
Misalkan, Rudi ditawari sebuah rencana usaha dengan investasi awal sebesar Rp 100 juta. Berdasarkan proposal, lima tahun kemudian nilai nominal uang yang dia peroleh adalah Rp 161 juta, Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah nilai Rp 161 juta lima tahun mendatang itu lebih besar daripada Rp 100 juta saat ini? Jika ya, proposal usaha tersebut layak diterima. Sebaliknya, jika tidak. Bagaimana kita mengetahui nilai sekarang dari Rp 161 juta tersebut di atas? Hal ini sangat tergantung dari tingkat pengembalian investasi (investment return) yang Rudi harapkan. Seandainya, untuk menjalankan usahanya, Rudi harus meminjam dari bank dengan bunga pinjaman 15% per tahun. Rudi berharap tingkat pengembalian investasi setidak-tidaknya lama dengan 15%. Karena itu nilai Rp 161 juta harus dideflasi sebesar 15% per tahun. Dalam perhitungan angka 15 % ini merupakan factor diskonto (discount factor).
Jika nilai sekarang dari Rp 161 juta yang akan diterima lima tahun mendatang dinotasikan V, nilai Rp 161 juta adalah X, sedang waktu adalah t, dan faktor diskonto adalah r, maka berdasarkan manipulasi matematika sederhana, hubungan antara ele¬men-elemen tersebut adalah:
X
V = (1+r)t (4.1)

Dengan menggunakan data diatas
161
V =
(1 +0.15)5

= 80.1
Nilai sekarang dari Rp 161 juta yang akan diterima lima tahun mendatang adalah Rp 80,1 juta. Karena nilainya lebih kecil daripada investasi awal, yang sebesar Rp 100 juta, proposal usaha ditolak. Sebab usaha tersebut justru membuat nilai riil uang yang diinvestasikan makin kecil. Dapat juga dikatakan bahwa return dari investasi lebih kecil daripada tingkat bunga pinjaman. Ini bisa dibuktikan dengan menggunakan per¬samaan eksponensial sederhana di bawah ini.

Jika nilai Rp 161 juta lima tahun mendatang dinotasikan sebagai Zt, sedangkan in¬vestasi awal dinotasikan sebagai Zo, maka :
Zt = Zo (1+ r)t (4.2)
Karena nilai Zt, Zo, dan t sudah diketahui, maka r dapat diketahui. Dengan menggunakan data di atas,
161 = 100 (1+ r)5
log 161 = log 100 + 5 log (1+r)
2,2068 = 2,000 + 5 log (1+r)
5 log (1+r) = 0,2068
log (1+r) = 0,0414

anti log (1+r) = 1,10; r = 0,1 atau 10%.

Tingkat pengembalian investasi ternyata hanya 10% per tahun, lebih kecil daripada biaya bunga pinjaman yang 15% per tahun.

b.Nilai Masa Mendatang (Future Value)

Menghitung nilai masa mendatang adalah kebalikan dari menghitung nilai sekarang dari output investasi yang direncanakan. Sekalipun melihat dari sudut pandang yang bertolak belakang, keputusan yang dihasilkan tetap sama. Dalam kasus di atas, dilihat dari nilai uang masa mendatang, dasar pengambilan keputusan ter¬hadap proposal yang ditawarkan adalah berapa nilai lima tahun mendatang dari uang yang diinvestasikan scat ini. Jika nilai Rp 161 juta lima tahun mendatang adalah lebih besar daripada nilai masa mendatang yang diharapkan, proposal usaha diterima. Sebaliknya, jika tidak (nilainya lebih kecil).
Jika investasi awal dinotasikan sebagai A, nilai masa mendatang yang diharapkan adalah F, waktu adalah t, dan tingkat pengembalian investasi yang diharapkan adalah x 15%, maka :

F = A (1+ r)t ………………………………………………………… (4.3)

Persamaan (4.3) substansinya adalah sama dengan Persamaan (4.2). Dengan menggunakan data di atas, maka:
F = 100 (1+0,15)5
= 100 (2,01)
= 201 juta

Nilai mendatang (lima tahun mendatang) yang diharapkan Rudi dari investasi saat ini adalah minimal Rp 201 juta. Sedangkan yang ditawarkan proposal usaha hanya Rp 161 juta, karena tingkat pengembalian investasi yang dihasilkan hanyalah 10%. Pro¬posal ditolak.

KRITERIA INVESTASI

Keputusan investasi merupakan keputusan rasional, karena keputusan berdasarkan pertimbangan rasional. Dalam praktik, digunakan beberapa alat bantu atau kriteria-kriteria tertentu untuk memutuskan diterima atau ditolaknya rencana investasi. Kriteria-kriteria tersebut dise¬but kriteria investasi (investment criteria). Minimal ada empat kriteria investasi yang digunakan dalam praktik, yaitu:
a. Payback Period
b. Benefit/Cost Ratio
c. Net Present Value
d. Internal Rate of Return

a. Payback Period

Payback period (periode pulang pokok) adalah waktu yang dibutuhkan agar in¬vestasi yang direncanakan dapat dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Jika waktu yang dibutuhkan makin pendek, proposal investasi dianggap makin baik. Kendatipun demikian, kita harus berhati-hati menafsirkan krite¬ria payback period ini. Sebab ada investasi yang baru menguntungkan dalam jangka panjang (> 5 tahun). Misalnya, investasi perkebunan kelapa sawit baru mencapai titik impas sekitar 8-10 tahun. Dilihat dari sudut ini, investasi perkebunan kelapa sawit kurang balk dibanding investasi perkebunan singkong (ubi kayu), karena payback period investasi kebun singkong mungkin hanya dua tahunan. Namun dilihat dari sisi yang lain, investasi perkebunan kelapa sawit jauh lebih menguntungkan dibanding singkong.

b. Benefit/Cost Ratio (B/C Ratio)

B/C ratio mengukur mans yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan dibanding basil (output) yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan dinotasikan sebagai C (cost). Output yang dihasilkan dinotasikan sebagai B (benefit). Jika nilai B/C sama dengan 1, maka B = C, output yang dihasilkan sama dengan biaya yang dikeluarkan. Bila nilai B/C > 1 maka B < C yang artinya output yang dihasilkan lebih kecil daripada biaya yang dikeluarkan. Begitu juga sebaliknya. Keputusan menerima atau menolak proposal in¬vestasi dapat dilakukan dengan melihat nilai B/C. Umumnya, proposal investasi baru diterima jika B/C > 1, sebab berarti output yang dihasilkan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.

c. Net Present Value (NPV)

Dua kriteria pertama dapat dihitung berdasarkan nilai nominal (non discounted method). Sayangnya, perhitungan dengan menggunakan nilai nominal dapat menyesat¬kan, sebab tidak memperhitungkan nilai waktu dari uang. Bisa saja sebuah proposal proyek, berdasarkan nilai nominal menghasilkan B/C > 1, padahal nilai sekarangnya sangat kecil. Jika memperhitungkan nilai waktu dari uang, barangkali B/C < 1. Untuk membuat hasil lebih akurat, maka nilai sekarang didiskontokan (discounted method) seperti contoh-contoh sebelumnya. Keuntungan lain dengan menggunakan metode dis¬konto adalah kita dapat langsung menghitung selisih nilai sekarang dari biaya total dengan penerimaan total bersih. Selisih inilah yang disebut net present value. Suatu pro¬posal investasi akan diterima jika NPV > 0, sebab nilai sekarang dari penerimaan total lebih besar daripada nilai sekarang dari biaya total.

d. Internal Rate of Return (IRR)

Internal rate of return (IRR) adalah nilai tingkat pengembalian investasi, dihitung pada saat NPV sama dengan nol. Jika pada saat NPV = 0, nilai IRR = 12%, maka tingkat pengembalian investasi adalah 12%. Keputusan menerima atau menolak rencana in¬vestasi dilakukan berdasarkan basil pembandingan IRR dengan tingkat pengembalian investasi yang diinginkan (r). Jika r yang diinginkan adalah 15%, sementara IRR hanya 12%, proposal investasi ditolak. Begitu juga sebaliknya.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INVESTASI

Sebagai sebuah keputusan yang rasional, investasi sangat ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu tingkat pengembalian yang diharapkan dan biaya investasi.

A. Tingkat Pengembalian yang Diharapkan (Expected Rate of Return)
Kemampuan perusahaan menentukan tingkat investasi yang diharapkan, sangat dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal perusahaan.

a. Kondisi Internal Perusahaan

Kondisi internal adalah faktor yang berada di bawah kontrol perusahaan, misalnya tingkat efisiensi, kualitas SDM dan teknologi yang digunakan. Ketiga aspek tersebut berhubungan positif dengan tingkat pengembalian yang diharapkan. Artinya, makin tinggi tingkat efisiensi, kualitas SDM dan teknologi, maka tingkat pengembalian yang diharapkan makin tinggi. Selain ketiga aspek teknis tersebut di atas, tingkat pengembalian yang diharapkan juga dipengaruhi oleh faktor non-teknis, terutama di negara sedang berkem¬bang. Misalnya, apakah perusahaan memiliki hak dan atau kekuatan monopoli, kedekatan dengan pusat kekuasaan, dan penguasaan jalur informasi.

b. Kondisi Eksternal Perusahaan

Kondisi eksternal yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan akan investasi terutama adalah perkiraan tentang tingkat produksi dan pertumbuhan ekonomi domestik maupun internasional. Jika perkiraan tentang masa depan ekonomi nasional maupun dunia bernada optimis, biasanya tingkat investasi meningkat, karena tingkat pengembalian investasi dapat dinaikkan.
Selain perkiraan kondisi ekonomi, kebijakan yang ditempuh pemerintah juga dapat menentukan tingkat investasi. Kebijakan menaikkan pajak, misalnya, diperkira¬kan akan menurunkan tingkat permintaan akan agregat. Akibatnya tingkat investasi akan menurun. Faktor sosial politik juga menentukan gairah investasi. Jika sosial¬politik makin stabil, investasi umumnya juga meningkat. Demikian pula faktor keamanan (kondisi keamanan negara).

B. Biaya Investasi

Yang paling menentukan tingkat biaya investasi adalah tingkat bunga pinjaman; Makin tinggi tingkat bunganya, maka biaya investasi makin mahal. Akibatnya minat akan investasi makin menurun.
Namun, tidak jarang, walaupun tingkat bunga pinjaman rendah, minat akan in¬vestasi tetap rendah. Hal ini disebabkan biaya total investasi masih tinggi. Faktor yang mempengaruhi terutama adalah masalah kelembagaan. Misalnya, prosedur izin in¬vestasi yang berbelit-belit dan lama (> 3 tahun), menyebabkan biaya ekonomi dengan memperhitungkan nilai waktu uang dari investasi makin mahal. Demikian halnya dengan keberadaan dan efisiensi lembaga keuangan, tingkat kepastian hokum, dan stabilitas politik.

C. Marginal Efficiency of Capital (MEC), Tingkat Bunga dan Marginal Efficiency of Investment (MEI)

1) Marginal Efficiency of Capital (MEC), Investasi dan Tingkat Bunga
Yang dimaksud dengan Marginal Efficiency of Capital (MEC) atau Efisiensi Modal Marjinal (EMM) adalah tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return) dari setiap tambahan barang modal. Dalam kehidupan sehari-hari sebuah perusahaan, terutama perusahaan multinasional (MNC) atau konglomerat lokal, sering merencanakan banyak kegiatan akan investasi sekaligus.

2) Marginal Efficiency of Capital (MEC) dan Marginal Efficiency of Investment (MEI)
Sama halnya dengan kurva permintaan akan investasi, kurva MEC secara nasional dapat diturunkan dengan menjumlahkan secara horizontal kurva MEC dari per¬usahaan yang ada dalam perekonomian. Misalnya. MEC akan sama besar dengan MEI pada tingkat bunga tertentu, di mana pembeIian barang modal hanya untuk menggantikan barang modal yang sudah tidak dapat dipakai lagi.

INVESTASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

Di tingkat perusahaan, syarat untuk memelihara keuntungan adalah dengan menjaga agar tingkat produksi tidak berkurang. Untuk itu stok barang modal tidak boleh berkurang. Dilihat dari sisi ini, investasi merupakan upaya memelihara stok barang modal (capital stock adjustment process). Besarnya investasi yang harus dilakukan untuk memelihara barang stok adalah senilai persentase penyusutan dikalikan stok barang modal yang diharapkan. Misalnya, nilai barang modal yang ha¬rus tersedia supaya perusahaan dapat mempertahankan tingkat produksi adalah Rp 10 miliar, sedangkan penyusutan adalah 10% per tahun, maka investasi per tahun adalah 10% x Rp 10 miliar = Rp I miliar. Jika perusahaan ingin meningkatkan keuntungan dengan cara meningkatkan kapasitas produksi, maka investasi yang dilakukan harus lebih besar daripada Rp 1 miliar, agar stok barang modal bisa menjadi lebih besar daripada Rp 10 miliar. Keputusan perusahaan untuk meningkatkan stok barang modal dapat memberikan dampak positif terhadap total perekonomian, sebab peningkatan stok barang modal secara nasional akan dapat meningkatkan kegiatan produksi dan juga dapat memperluas kesempatan kerja.

Kamis, 04 Juni 2009

Pengantar Ekonomi Makro: Materi 5 Interaksi dengan Dunia Internasional

INTERAKSI DENGAN DUNIA INTERNASIONAL

1.Pentingnya Kerjasama Ekonomi Internasional
Cakupan kerjasama ekonomi internasional sangat luas. Ada yang langsung memberikan manfaat dan ada yang baru memberikan manfaat dalam jangka panjang. Kerjasama ekonomi yang dapat langsung memberikan manfaat terutama adalah perdagangan internasional. Sedangkan kerjasama yang memberikan manfaat dalam jangka panjang misalnya penanaman modal langsung. Misalnya pengusaha Amerika Serikat yang menanamkan modalnya dalam bidang industri di Indonesia, membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum dapat berproduksi.

2.Teori-teori Perdagangan Internasional
Sebenarnya banyak teori perdagangan internasional. Namun akan dibahas 2 teori yang paling terkenal.

a)Teori Keunggulan Absolut (Absolute Advantages)
Teori ini dikemukan oleh Adam Smith. Menurut Adam Smith, perdagangan akan meningkatkan kemakmuran bila dilaksanakan melalui mekanisme perdagangan bebas. Melalui mekanisme perdagangan bebas, para pelaku ekonomi diarahkan untuk melakukan spesialisasi dalam upaya peningkatan efisiensi. Menurut Adam Smith, sebaiknya spesialisasi dilakukan berdasarkan pertimbangan keunggulan absolut, yaitu keunggulan yang dilihat dari kemampuan produksi dengan biaya lebih rendah. Sebab bila biaya produksinya lebih rendah, dengan input yang sama dapat dihasilkan output yang lebih banyak.

Contoh:
Biaya Produksi per Unit Sepeda Motor dan Beras
Diukur dengan Jumlah Tenaga Kerja yang Digunakan untuk
Memproduksi 1 Unit Output di Indonesia dan Jepang

Negara Motor (M) Beras (B) Rasio Tukar Domestik
Indonesia 60 15 1 M : 4 B
Jepang 12 24 1 M : 1/2

 Bagi Indonesia biaya produksi per unit sepeda motor adalah empat kali lebih mahal daripada biaya produksi per unit beras (1 unit = 1 ton). Sebab untuk memproduksi satu unit sepeda motor dibutuhkan 60 tenaga kerja, sedangkan 1 ton beras dibutuhkan 15 tenaga kerja, sehingga rasio tukar domestiknya (berapa ton beras harus dikorbankan untuk memproduksi 1 unit motor) adalah 1:4. Artinya, setiap unit motor nilainya sama dengan 4 ton beras.

 Bagi Jepang, biaya produksi per unit motor hanya separuh biaya produksi per unit beras. Sebab biaya produksi per unit beras adalah 24, sedangkan per unit motor hanya 12. Dengan demikian rasio tukar domestik adalah 1:1/2; setiap unit motor setara dengan setengah unit beras.


b)Teori Keunggulan Komparatif (Comparatif Advantages)
Teori ini dikemukakan oleh David Ricardo.

Contoh:
Biaya Produksi per Unit Mobil dan Tekstil
Diukur dengan Jumlah Tenaga Kerja yang Digunakan untuk
Memproduksi 1 Unit Output di Indonesia dan Jepang

Negara Mobil (M) Tekstil (T) Rasio Tukar Domestik
Indonesia 100 20 1 M : 5 T
USA 25 10 1 M : 2,5 T

 Tabel di atas menunjukkan bahwa USA memiliki keunggulan absolut dalam produksi mobil maupun tekstil. Untuk memproduksi satu unit mobil, USA hanya membutuhkan 25 tenaga kerja, sedangkan Indonesia 100 tenaga kerja. Untuk memproduksi satu unit tekstil, USA hanya membutuhkan 10 tenaga kerja, Indonesia 20 tenaga kerja. Menurut David Ricardo, Indonesia dan USA dapat melakukan perdagangan bila masing-masing negara memiliki keunggulan komparatif.

 Berdasarkan tabel di atas di lihat dari rasio tukar domestiknya harga mobil di USA diukur dengan unit tekstil adalah dua kali lebih murah daripada harga mobil di Indonesia. Karena itu biaya ekonomi memproduksi tekstil di USA lebih mahal dibanding di Indonesia. USA memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi mobil, karenanya sebaiknya USA menspesialisasikan diri dalam memproduksi mobil. Sedangkan Indonesia memproduksi tekstil.

 Keunggulan komparatif USA dalam memproduksi mobil dapat juga dilihat dari tingkat efisiensi relatifnya. Karena untuk memproduksi 1 unit mobil USA hanya membutuhkan 25 tenaga kerja, sementara Indonesia membutuhkan 100 tenaga kerja, maka USA memiliki efisiensi 4 kali lipat dalam produksi mobil. Sedangkan dalam produksi tekstil, USA memiliki efisiensi hanya dua kali lipat. Karena itu sebaiknya USA menspesialisasikan diri dalam produksi mobil, sedangkan Indonesia memproduksi tekstil.